Perekonomian melemah, 100.000 pekerja di-PHK?

Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) menyebutkan, banyaknya tenaga kerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) adalah sekitar 27.000 orang. Namun, kalangan buruh, pengusaha, dan ekonom yakin bahwa angkanya jauh di atas itu. Pasalnya, banyak perusahaan yang tidak melaporkan PHK ke Kemenaker. Di industri tekstil saja, angkanya sudah lebih dari 36.000 orang. Hal ini diperkirakan karena perekonomian yang sedang mengalami masa sulit.

Berkaca dari data di industri tekstil, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan, jika ditambah dengan sektor lain, bukan mustahil jika angka tenaga kerja yang tekena PHK saat ini sudah lebih dari 100.000. Dampak PHK sebanyak ini tak lagi bisa dianggap enteng.

Belum lagi perkiraan ke depan bahwa jumlah orang yang kehilangan pekerjaan akan terus bertambah. Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menyebutkan, masih ada potensi PHK sekitar 50.000 orang. Angka ini berasal dari karyawan yang sudah dirumahkan sebelum Idul Fitri pada Juli lalu dan yang mengalami pengurangan jam kerja. Perusahaan-perusahaan yang rentan memutus hubungan kerja pegawainya ini berasal dari industri sepeda motor, baja, dan industri elektronik.

Selain itu, Said menambahkan, kondisi pelambatan ekonomi ditambah pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) menjadi alasan perusahaan mengurangi karyawan.

Menteri Tenaga Kerja, Hanif Dhakiri mengimbau kepada perusahaan agar tindakan PHK menjadi keputusan terakhir atas terjadinya kelesuan ekonomi ini. Pasalnya, ada cara lain untuk menekan efisiensi selain dari pemangkasan tenaga kerja. “Jangan sampai tindakan PHK menjadi keputusan pertama,” kata Hanif.

 

Sumber: Kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *